Seribu alasan laki-laki untuk selingkuh,
menikah lagi, dengan ijin istri ataupun diam-diam seperti kasus saya ; apa yang diambil suami saya
sebagai alasan untuk menikah lagi?.
Jawabanya anak
Wah, audiens pasti setuju ; boleh
dong suami menikah lagi kalau sudah sekian tahun menikah tidak dikaruniai
momongan, apalagi yang berdalih agama : boleh bangeut ,Neng…
Tetapi kasus kami ini lucu,
karena tahun 2014 kami program bayi , dokter menyatakan saya normal, subur,
setelah polip saya diambil, dokter menyatakan saya siap untuk inseminasi, telur
saya jumlah dan ukurannya normal sehingga saya hanya dianjurkan menurunkan berat
badan 3 kg….justru suami 2x periksa lab hasil spermanya abnormal, saya bekerja di
laboratorium kesehatan melihat sendiri di bawah mikroskop jumlah sperma suami
saya sangat..sangat sedikit…sehingga jumlahnya < 5jt/ml dari normal >20
jt/ml, dia konfirmasi di lab Surabaya hasilnya sama, washing sperma di klinik
Aster RSHS hasilnya sama, sehingga dokter menyatakan tidak bisa dilakukan
inseminasi dan harus bayi tabung ( ICSI ) tetapi karena usia saya sudah 40 tahun, resiko keberhasilan memang tidak setinggi usia < 38 tahun…jadi kenapa suami saya yang abnormal tetapi dia yang selingkuh?
Ternyata 3 bulan sebelum suami
saya mengajak program bayi , dia sudah memacari dalam arti meniduri perempuan
lain, dia meminta perempuan yang usianya saat itu paling baru menginjak 23
tahun, untuk hamil, menjadi ibu dari anak suami saya karena saya sebagai
istrinya yang sudah 40 tahun, tidak kunjung hamil…, entahlah apakah perempuan
itu terbuai serasa dalam cerita novel, maka mereka berdua yang saat itu tinggal di Jawa Timur giat
berhubungan intim dan menghitung masa
subur, sementara saya di Bandung tidak sedikitpun berpikir suami saya menghamburkan
uang untuk menginap di hotel denga perempuan lain dan melakukan hal melanggar
agama seperti itu. Suami saya mengatakan kalau perempuan itu hamil, bayinya akan dia ambil untuk saya dan perempuan itu akan dia tinggalkan dengan pengganti warisan orang tuanya di Jember, dan katanya perempuan itu menyanggupi ...sungguh absurd..., karena kenyataanya perempuan itu selanjutnya ingin memiliki suami saya seutuhnya, semuanya, seluruhnya...ya suami saya, ya warisannya ( sy juga kurang paham warisan yang mana) dan bayinya ( kalau ada ) .., lha saya sama-sama wanita, apa mungkin mau memberikan anak darah daging kita begitu saja , itu hanya ada di sinetron....
Setelah suami saya tahu hasil
spermanya abnormal, apakah dia berhenti dengan perempuan itu…tidak, menurut
suami saya dan saya konfirmasi dari chatt WA mereka; perempuan itu membujuk dan
menyemangati seperti supoorter bola bahwa mereka masih bisa berusaha dan perempuan itu ingin memberi
suami saya anak barang satu saja ; seperti
kucing garong disodori ikan asin, tentu saja suami saya mengamini dan mereka
melanjutkan “ baby project “ mereka, sampai suami saya pindah ke Bandung,
perempuan itu yang mungkin perlu uang bedak karena tidak bekerja ( ini juga
merujuk dari chatt WA dimana perempuan itu rajin minta jajan pada suami saya, dari uang untuk membeli sabun vagina ‘ supaya bisa
seperti perawan lagi’ seharga Rp.150 rb sampai HP Xiaomi tipe apalah..), atau mungkin sudah merasa ketagihan , perempuan itu terus menghubungi suami saya
lewat WA dari jam 5 pagi sampai jam 10 malam….bertanya kapan suami saya ke
Jatim, ke jember menengok neneknya ( perempuan itu tetangga desa dengan nenek
suami saya), membanjiri dengan kalimat “ I love you”, ucapan kangen, percakapan
vulgar, dan mengirim foto-foto bayi,
foto pahanya, foto pose sexy yang barangkali pikir perempuan itu bisa menggugah
suami saya untuk segera berangkat ke Jawa Timur..
Setelah di Bandung , suami saya
setiap 3-4 bulan ke Jawa Timur , berdalih menengok orang tua dan neneknya di
Jember, sekali pulang biasanya 3 minggu dan saya kerap bertengkar dengan suami
saya soal ini, setiap suami saya pulang ke Jawa Timur, hati saya selalu gelisah
dan tidak tenang, dan saya pernah menyampaikannya kepada suami saya dan dia
tidak berkomentar apa-apa.
Akhirnya 3 tahun mereka berpacaran , entah berapa puluh
atau ratus kali mereka tidur bersama di belakang saya, tetapi perempuan itu tidak kunjung
hamil..tidak pernah hamil….dan orang tua perempuan itu akhirnya tahu kalau anak
perempuannya sudah ditiduri pacarnya yaitu suami saya karena kakak perempuan
itu melihat ada kit tes kehamilan di tas adiknya , saya tidak tahu apakah si
perempuan itu dimarahi atau tidak , yang jelas
hingga suatu saat ibu si perempuan itu sakit keras dan dirawat di RS
entah di Puskesmas di Jember dan saat antara hidup
dan mati, seperti adegan sinetron; ibu perempuan itu meminta suami saya
menikahi anaknya , dan seperti adegan sinetron juga, suami saya menyanggupi
karena dihadapkan pada permintaan orang di ambang sakratul maut, setelah
mendengar janji suami saya…kemudian ibu perempuan itu pun…tidak jadi meninggal …dan
sehat seperti sedia kala.
Pertanyaannya mengapa orang tua
perempuan itu setuju anaknya menikah dengan suami saya, sementara perempuan
itu, kakaknya, orang tuanya, mengetahui kalau suami saya sudah punya istri di
Bandung, jawabannya terdengar sangat mulia, karena ayah si perempuan itu
mendukung suami saya untuk punya anak, atau mungkin karena harta warisan suami
saya di Jember , entahlah..yang jelas saat
orang tua suami saya melamar dan menyampaikan kalau suami saya punya istri di Bandung, orang tua perempuan itu menjawab : “ Iya, tidak apa-apa”…
Kemudian kenapa juga orang tua
suami saya alias mertua saya menyetujui suami saya menikah lagi, sebetulnya
mereka menyuruh suami saya memilih saya atau perempuan itu, dan tentu saja
mereka tertarik mendegar kata “ mendapat cucu” daripada mempertimbangkan
perasaan dan keberadaan saya ,mantu yang mereka tidak kenal dan hanya tahu
ceritanya saja.
Kemudian suami saya dan perempuan itu menikah, dengan
resepsi, ada perlaminan, ada foto-foto pengatin dengan pose-pose klise…dan kemudian
katanya mereka berobat alternatif ke sebuah pesantren di Lumajang supaya bisa
punya anak; dan saya setelah tahu suami selingkuh membuka-buka laci kerja suami
saya dan menemukan botol-botol kosong dengan etiket ‘Al Khotamaini’yang merupakan obat alternatif supaya menjadi subur? entahlah..…saya heran saja kok suami saya
yang pendidikan S1 Brawijaya yang berarti bukan orang bodoh mau mengkonsusmsi
obat –obat tidak jelas seperti itu , entah apa isi dan kandungan botol-botil
kecil itu , yang jelas saya mencari info tentang pesantren itu malah menemukan
informasi pengajian sesat, Waliahu a’lam bishawab...
Tahun 2014 mereka mulai
selingkuh, September 2016 mereka menikah, 2 Januari 2017 suami saya menengok
‘pengantin’nya pertama kali ke Jember , 7 Januari 2017 saat suami saya di Jember itu saya tahu suami saya selingkuh,
kemudian ramailah dunia persilatan….Februari 2017 suami saya pindah ke Bali
tanpa perempuan itu, yang lagi-lagi setelah menikah pun tidak kunjung hamil,
dan tidak lama kenudian suami saya mengirim pesan di WA : aku ingin pulang ke
Bandung….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar