Menyambung dua tulisan saya sebelumnya, bagaimana cara menyembuhkan diri,
menyembuhkan hati, menyembuhkan pikiran…atas semua pengkhianatan yang saya terima..?
Tentu semua berproses, saat
pertama saya tahu dengan tanpa sengaja kalau suami saya ternyata mengkhianati saya
, bertahun-tahun, dan menikah dengan selingkuhannya itu, dengan resepsi dan
foto-fotonya di perlaminan terpampang di Instagram perempuannya…reaksi pertama
saya adalah badan saya bergetar hebat sampai saya tidak bisa
mengendalikannya selama beberapa saat…, masih dengan tangan bergetar
saya mencari-cari nomor perempuan itu dan menghubungi perempuan itu, tanpa
emosi…saat saya tanya kamu siapanya suami saya dia menjawab,” Saya istrinya,
sudah lama ..sudahlah, kamu lebih tua dari saya harusnya lebih dewasa..”
Saya tutup telponnya , dan sejak
itu saya tidak pernah berkomunikasi lagi, meski di kemudian hari kemudian perempuan itu mengirim
pesan-pesan kasar dan dia bilang “ jangan ganggu suamiku “ ( lho??) , saya
tidak pernah membalas karena saya merasa tidak ada urusan dengan perempuan itu,
urusan saya dengan suami saya, dan saya selalu menghapus nomornya bila perempuan itu mengirim pesan, karena saya tidak mau hidup saya terganggu.
Kemudian saya menelpon ibu suami
saya, beliau tergesa-gesa menjawab tidak kenal saya…
Malam itu saya tidak tidur sama
sekali, saya menghubungi dan mengirim pesan ke suami saya pun baru direspon
besok sorenya…saya duduk hanya diam dan berusaha mencerna dan mengerti apa yang
terjadi, membaca chatt WA suami saya dengan perempuan itu bertahun-tahun cukup
untuk memberi informasi yang jelas bahwa perempuan itu tetangga desa nenek
suami saya di Jember, kulitnya hitam , wajahnya seperti orang Madura,
dan biasa saja…mereka saat itu baru 3 bulan menikah, tetapi sudah berhubungan
seperti suami istri bertahun-tahun…chatt itu berisi percakapan vulgar,
foto-foto perempuan itu malah foto selfie vulgar yang dikirimkan perempuan itu ke HP suami saya, dan perempuan itu mulai mengirim pesan pada suami saya
dari jam 5 pagi sampai jam 10 malam…penuh
rayuan, dan dengan bebas dia membicarakan saya…menanyakan apakah suami saya
sedang bermesraan dengan saya sehingga mengabaikannya….menanyakan suami apakah
sedang menjemput saya kerja…sampai terakhir-terakhir adalah chatt tentang rencana pernikahan mereka…perempuan
itu membicarakan gaun, make up, dan dengan cekikikan membahas kalau dia menikah
dengan suami orang ;
Si Perempuan : “ Baru sadar saya ini jadi pengantin”
Suami saya : “ Pengantinnya siapa”
Si Perempuan : “ Pengantinnya suami orang, xixixi…”
Hari ke-3 saya baru menangis hebat…kemudian mulai timbul
kemarahan…apalagi suami saya setelah ketahuan bohongnya, tidak menelpon apalagi
pulang ke Bandung untuk menjelaskan duduk perkaranya apalagi meninta maaf…saya
benar-benar merasa ditikam dari belakang, dan saya mulai memaki, mengungkit
latar belakang pernikahan kami, saya memasukkan semua barang-barang pribadi
suami saya ke dalam kardus…saya menunggu sampai minggu ke-2, suami saya tidak
kunjung datang, saya minta teman paketkan semua barang suami saya itu ke Jember..
Efek dari semua kejadian itu kesehatan
saya menurun, berat badan saya berkurang karena saya tidak berselera makan…saya mulai merokok…telinga kiri saya
berdenging ( sampai sekarang ) yang analisa dokter THT hal itu karena masalah
lambung saya; asam lambung saya naik sampai ke kuping…kemudian saya mulai menjalani terapi akupuntur untuk
itu…
Sampai suatu saat , hari Sabtu
jam 15.00, saya mengambil N-Max dan memacunya sampai akhirnya saya berhenti dia
pantai Karapyak Pangandaran, saya sampai pinggir pantai jam 21.30..kemudian saya
mencari-cari warung yang agak sepi, dan menemukan sebuah warung kopi yang
ditunggui ibu –ibu agak gemuk memakai daster warna coklat kuning. Saya memesan
kopi dan semanguk mie Instant dengan telur putihnya saja..setelah berbasa-basi
, tiba-tiba ibu itu berkata ( dalam
bahasa daerah );
Ibu warung : ”Suami ibu pergi dengan perempuan lain “
Saya : “Oh, kenapa bu”
Ibu warung :”Ibu tahu
karena ibu mendadak dipanggil ke KUA, ternyata mereka mau menikah
dan ibu harus
memberi ijin , Ibu pulang dengan kaki serasa tenggelam ke tanah “
“Sakit
hati ibu rasanya…”
Mata ibu warung itu berkaca-kaca.
Saya :” Kapan
kejadianya ,Bu”
Ibu warung : “Empat tahun
lalu…sekarang ibu 50tahun”
Saya tercenung….
Saya hanya sejam di Pantai
karapyak, setelah mengobrol dengan ibu warung itu, saya memacu N-Max saya kembali
ke Bandung, sepanjang perjalanan saya memikirkan ibu warung itu dalam hati saya
berkata, “Ya Alloh, saya tidak mau membawa sakit hati ini bertahun-tahun
seperti ibu itu”….saya tidak ingin tersiksa bertahun-tahun; saya tidak mau 4
tahun kemudian saya masih menangis
membicarakan sakit hati saya sekarang ….
Sepertinya Tuhan menuntun saya datang ke pantai Karapyak untuk menemui ibu warung itu..
Sepertinya Tuhan menuntun saya datang ke pantai Karapyak untuk menemui ibu warung itu..
Akhirnya saya menyibukan diri
dengan olah raga, saya Yoga 3-4X seminggu setiap pulang kerja dan saya mulai
mencari-cari cara untuk menenangkan hati saya, menghilangkan kegelisahan ,
sakit hati dan dendam di hati saya , karena semua itu meracuni dan mengerogoti jiwa dan badan saya…; kenapa saya
tidak mendatangi pesantren? bukan bermaksud merendahkan agama saya , saya dulu pernah
mempunyai masalah dan mendatangi pengajian-pengajian dan meminta nasihat sang ustadz
tetapi ustadz tersebut malah kemudian mencoba melecehkan saya , akhirnya saat saya browsing
saya menemukan tulisan-tulisan Gede Prama…dan entah kenapa
tulisan/perkataan-perkataan Pak Gede Prama menyejukkan saya dan perlahan-lahan
hati saya terbuka untuk menyerap nasihat-nasihatnya….meski saya belum bisa
berkesempatan mengikuti meditasinya tetapi semua tulisan bijak Pak Gede Prama
membuat hati saya lebih tenang…dan yang terpenting saya mulai mengikhlaskan
semua kejadian yang menimpa saya….
Sedemikian mudahnya..?
Ya ..sedemikian mudahnya,
akhirnya saya mulai belajar diam, hati juga saya diamkan , hati saya tenangkan sehingga
tidak lagi penuh pertanyaan dan makian …saya tidak perlu lagi mengharapkan
penjelasan atas semua terjadi, dan saya mulai bisa tersenyum…saya mulai
mendengarkan….sehingga beberapa teman kerja menjadi heran karena saya menjadi
sosok yang lebih tenang dan rajin tersenyum…
Jawaban dari semua itu adalah
ikhlas…
Untuk apa saya marah, menyesali
kebodohan suami, mengutuk semua yang membuat hati saya terluka? Saya mulai
memahami arti kalimat ‘ hidup mengalir seperti air’….saya tidak melawan, tetapi
menyesuaikan dan mengadaptasi…karena bahagia itu pilihan…penderitaan itu adalah
apabila suatu hal terjadi diluar yang kita inginkan dan kita tidak menerimanya
maka jadilah penderitaan…
Semua nasihat Pak Gede Prama intinya sama dengan yang diajarkan semua agama/keyakinan, tetapi mungkin cara penyampaian beliau yang mengena di hati saya...sehingga saya bisa lebih tenang atau istilah kekiniannya : saya bisa move on..
Lebih jauhnya saya belajar memaafkan, sebelumnya apabila ada masalah atau kekacauan saya cenderung akan bikin hancur sekalian, kali ini saya belajar memperbaiki apa yang bisa diperbaiki,...saya mulai lagi berhubungan dengan teman-teman lama..., mengobrol di tempat ngopi sepulang kerja, jalan-jalan beberapa hari ke Ubud dengan teman SMA saya, intinya saya juga berusaha menghibur hati saya ..menikmati & mensyukuri hidup...merayakan kehidupan..so, menghadapi suami saya pun, saat kami bertemu lagi pertama kali setelah pengkhianatannya, saya lebih santai berkomunikasi dan tidak ada kemarahan yang berlebihan apalagi caci maki...
Lebih jauhnya saya belajar memaafkan, sebelumnya apabila ada masalah atau kekacauan saya cenderung akan bikin hancur sekalian, kali ini saya belajar memperbaiki apa yang bisa diperbaiki,...saya mulai lagi berhubungan dengan teman-teman lama..., mengobrol di tempat ngopi sepulang kerja, jalan-jalan beberapa hari ke Ubud dengan teman SMA saya, intinya saya juga berusaha menghibur hati saya ..menikmati & mensyukuri hidup...merayakan kehidupan..so, menghadapi suami saya pun, saat kami bertemu lagi pertama kali setelah pengkhianatannya, saya lebih santai berkomunikasi dan tidak ada kemarahan yang berlebihan apalagi caci maki...
Terima Kasih kepada Guruji Gede
Prama atas tulisan –tulisannya , semoga suatu saat saya bisa mengikuti
meditasinya