Minggu, 10 September 2017

HEALING.....( Terima kasih pak Gede Prama )



Menyambung dua tulisan saya sebelumnya, bagaimana cara menyembuhkan diri,  menyembuhkan hati, menyembuhkan pikiran…atas semua pengkhianatan yang saya terima..?

Tentu semua berproses, saat pertama saya tahu dengan tanpa sengaja kalau suami saya ternyata mengkhianati saya , bertahun-tahun, dan menikah dengan selingkuhannya itu, dengan resepsi dan foto-fotonya di perlaminan terpampang di Instagram perempuannya…reaksi pertama saya adalah badan saya bergetar hebat sampai saya tidak bisa mengendalikannya  selama  beberapa saat…, masih dengan tangan bergetar saya mencari-cari nomor perempuan itu dan menghubungi perempuan itu, tanpa emosi…saat saya tanya kamu siapanya suami saya dia menjawab,” Saya istrinya, sudah lama ..sudahlah, kamu lebih tua dari saya harusnya lebih dewasa..”
Saya tutup telponnya , dan sejak itu saya tidak pernah berkomunikasi lagi, meski di kemudian hari kemudian perempuan itu mengirim pesan-pesan kasar dan dia bilang “ jangan ganggu suamiku “ ( lho??) , saya tidak pernah membalas karena saya merasa tidak ada urusan dengan perempuan itu, urusan saya dengan suami saya, dan saya selalu menghapus nomornya bila perempuan itu mengirim pesan, karena saya tidak mau hidup saya terganggu.

Kemudian saya menelpon ibu suami saya, beliau tergesa-gesa menjawab tidak kenal saya…

Malam itu saya tidak tidur sama sekali, saya menghubungi dan mengirim pesan ke suami saya pun baru direspon besok sorenya…saya duduk hanya diam dan berusaha mencerna dan mengerti apa yang terjadi, membaca chatt WA suami saya dengan perempuan itu bertahun-tahun cukup untuk memberi informasi yang jelas bahwa perempuan itu tetangga desa nenek suami saya di Jember, kulitnya hitam , wajahnya seperti orang Madura, dan biasa saja…mereka saat itu baru 3 bulan menikah, tetapi sudah berhubungan seperti suami istri bertahun-tahun…chatt itu berisi percakapan vulgar, foto-foto perempuan itu malah foto selfie vulgar yang dikirimkan  perempuan itu ke HP suami saya, dan perempuan itu mulai mengirim pesan pada suami saya dari jam 5 pagi sampai  jam 10 malam…penuh rayuan, dan dengan bebas dia membicarakan saya…menanyakan apakah suami saya sedang bermesraan dengan saya sehingga mengabaikannya….menanyakan suami apakah sedang menjemput saya kerja…sampai terakhir-terakhir adalah chatt tentang rencana pernikahan mereka…perempuan itu membicarakan gaun, make up, dan dengan cekikikan membahas kalau dia menikah dengan suami orang ;
Si Perempuan    : “ Baru sadar saya ini jadi pengantin”
Suami saya        : “ Pengantinnya siapa”
Si Perempuan    : “ Pengantinnya suami orang, xixixi…”

Hari ke-3  saya baru menangis hebat…kemudian mulai timbul kemarahan…apalagi suami saya setelah ketahuan bohongnya, tidak menelpon apalagi pulang ke Bandung untuk menjelaskan duduk perkaranya apalagi meninta maaf…saya benar-benar merasa ditikam dari belakang, dan saya mulai memaki, mengungkit latar belakang pernikahan kami, saya memasukkan semua barang-barang pribadi suami saya ke dalam kardus…saya menunggu sampai minggu ke-2, suami saya tidak kunjung datang, saya minta teman paketkan semua barang suami saya itu ke Jember..

Efek dari semua kejadian itu kesehatan saya menurun, berat badan saya berkurang karena saya tidak berselera makan…saya mulai merokok…telinga kiri saya berdenging ( sampai sekarang ) yang analisa dokter THT hal itu karena masalah lambung saya; asam lambung saya naik sampai ke kuping…kemudian  saya mulai menjalani terapi akupuntur untuk itu…

Sampai suatu saat , hari Sabtu jam 15.00, saya mengambil N-Max dan memacunya sampai akhirnya saya berhenti dia pantai Karapyak Pangandaran, saya sampai pinggir pantai jam 21.30..kemudian saya mencari-cari warung yang agak sepi, dan menemukan sebuah warung kopi yang ditunggui ibu –ibu agak gemuk memakai daster warna coklat kuning. Saya memesan kopi dan semanguk mie Instant dengan telur putihnya saja..setelah berbasa-basi , tiba-tiba ibu itu berkata  ( dalam bahasa daerah );
Ibu warung         : ”Suami ibu pergi dengan perempuan lain “
Saya                    : “Oh, kenapa bu”
Ibu warung         :”Ibu tahu karena ibu mendadak dipanggil ke KUA, ternyata mereka mau menikah 
dan ibu harus memberi ijin , Ibu pulang dengan kaki serasa tenggelam ke tanah “
                             “Sakit hati ibu rasanya…”
Mata ibu warung itu berkaca-kaca.
Saya                    :” Kapan kejadianya ,Bu”
Ibu warung         : “Empat tahun lalu…sekarang ibu 50tahun”
Saya tercenung….

Saya hanya sejam di Pantai karapyak, setelah mengobrol dengan ibu warung itu, saya memacu N-Max saya kembali ke Bandung, sepanjang perjalanan saya memikirkan ibu warung itu dalam hati saya berkata, “Ya Alloh, saya tidak mau membawa sakit hati ini bertahun-tahun seperti ibu itu”….saya tidak ingin tersiksa bertahun-tahun; saya tidak mau 4 tahun kemudian saya  masih menangis membicarakan sakit hati saya sekarang ….
Sepertinya Tuhan menuntun saya datang ke pantai Karapyak untuk menemui ibu warung itu..

Akhirnya saya menyibukan diri dengan olah raga, saya Yoga 3-4X seminggu setiap pulang kerja dan saya mulai mencari-cari cara untuk menenangkan hati saya, menghilangkan kegelisahan , sakit hati dan dendam di hati saya , karena semua itu meracuni dan  mengerogoti jiwa dan badan saya…; kenapa saya tidak mendatangi pesantren? bukan bermaksud merendahkan agama saya , saya dulu pernah mempunyai masalah dan mendatangi pengajian-pengajian dan meminta nasihat sang ustadz tetapi ustadz tersebut malah kemudian mencoba  melecehkan saya , akhirnya saat saya browsing saya menemukan tulisan-tulisan Gede Prama…dan entah kenapa tulisan/perkataan-perkataan Pak Gede Prama menyejukkan saya dan perlahan-lahan hati saya terbuka untuk menyerap nasihat-nasihatnya….meski saya belum bisa berkesempatan mengikuti meditasinya tetapi semua tulisan bijak Pak Gede Prama membuat hati saya lebih tenang…dan yang terpenting saya mulai mengikhlaskan semua kejadian yang menimpa saya….

Sedemikian mudahnya..?

Ya ..sedemikian mudahnya, akhirnya saya mulai belajar diam, hati juga saya diamkan , hati saya tenangkan sehingga tidak lagi penuh pertanyaan dan makian …saya tidak perlu lagi mengharapkan penjelasan atas semua terjadi, dan saya mulai bisa tersenyum…saya mulai mendengarkan….sehingga beberapa teman kerja menjadi heran karena saya menjadi sosok yang lebih tenang dan rajin tersenyum…
 
Jawaban dari semua itu adalah ikhlas…

Untuk apa saya marah, menyesali kebodohan suami, mengutuk semua yang membuat hati saya terluka? Saya mulai memahami arti kalimat ‘ hidup mengalir seperti air’….saya tidak melawan, tetapi menyesuaikan dan mengadaptasi…karena bahagia itu pilihan…penderitaan itu adalah apabila suatu hal terjadi diluar yang kita inginkan dan kita tidak menerimanya maka jadilah penderitaan…

Semua nasihat Pak Gede Prama intinya sama dengan yang diajarkan semua agama/keyakinan, tetapi mungkin cara penyampaian beliau yang mengena di hati saya...sehingga saya bisa lebih tenang atau istilah kekiniannya : saya bisa move on..

Lebih jauhnya saya belajar memaafkan, sebelumnya apabila  ada masalah atau kekacauan saya cenderung akan bikin hancur sekalian, kali ini saya belajar  memperbaiki apa yang bisa diperbaiki,...saya mulai lagi berhubungan dengan teman-teman lama..., mengobrol di tempat ngopi sepulang kerja, jalan-jalan beberapa hari ke Ubud  dengan teman SMA saya, intinya saya juga berusaha menghibur hati saya ..menikmati & mensyukuri hidup...merayakan kehidupan..so, menghadapi suami saya pun, saat kami bertemu lagi pertama kali setelah pengkhianatannya, saya lebih santai berkomunikasi dan tidak ada kemarahan yang berlebihan apalagi caci maki...

Terima Kasih kepada Guruji Gede Prama atas tulisan –tulisannya , semoga suatu saat saya bisa mengikuti meditasinya

SERIBU ALASAN LAKI-LAKI BERSELINGKUH



Seribu alasan laki-laki untuk selingkuh, menikah lagi, dengan ijin istri ataupun diam-diam seperti  kasus saya ; apa yang diambil suami saya sebagai alasan untuk menikah lagi?.

Jawabanya anak

Wah, audiens pasti setuju ; boleh dong suami menikah lagi kalau sudah sekian tahun menikah tidak dikaruniai momongan, apalagi yang berdalih agama : boleh bangeut ,Neng…

Tetapi kasus kami ini lucu, karena tahun 2014 kami program bayi , dokter menyatakan saya normal, subur, setelah polip saya diambil, dokter menyatakan saya siap untuk inseminasi, telur saya jumlah dan ukurannya normal sehingga saya hanya dianjurkan menurunkan berat badan 3 kg….justru suami  2x periksa lab hasil spermanya abnormal, saya bekerja di laboratorium kesehatan melihat sendiri di bawah mikroskop jumlah sperma suami saya sangat..sangat sedikit…sehingga jumlahnya < 5jt/ml dari normal >20 jt/ml, dia konfirmasi di lab Surabaya hasilnya sama, washing sperma di klinik Aster RSHS hasilnya sama, sehingga dokter menyatakan tidak bisa dilakukan inseminasi dan harus bayi tabung ( ICSI ) tetapi karena usia saya sudah 40 tahun, resiko keberhasilan memang tidak setinggi usia < 38 tahun…jadi kenapa suami saya yang abnormal tetapi dia yang selingkuh?

Ternyata 3 bulan sebelum suami saya mengajak program bayi , dia sudah memacari dalam arti meniduri perempuan lain, dia meminta perempuan  yang usianya saat itu paling baru menginjak 23 tahun, untuk hamil, menjadi ibu dari anak suami saya karena saya sebagai istrinya yang sudah 40 tahun, tidak kunjung hamil…, entahlah apakah perempuan itu terbuai serasa dalam cerita novel, maka mereka berdua  yang saat itu tinggal di Jawa Timur giat berhubungan intim  dan menghitung masa subur, sementara saya di Bandung tidak sedikitpun berpikir suami saya menghamburkan uang untuk menginap di hotel denga perempuan lain dan melakukan hal melanggar agama seperti itu. Suami saya mengatakan kalau perempuan itu hamil, bayinya akan dia ambil untuk saya dan perempuan itu akan dia tinggalkan dengan pengganti warisan orang tuanya di Jember, dan katanya perempuan itu menyanggupi ...sungguh absurd..., karena kenyataanya perempuan itu selanjutnya ingin memiliki suami saya seutuhnya, semuanya, seluruhnya...ya suami saya, ya warisannya ( sy juga kurang paham warisan yang mana) dan bayinya ( kalau ada ) .., lha saya sama-sama wanita, apa mungkin mau memberikan anak darah daging kita begitu saja , itu hanya ada di sinetron....

Setelah suami saya tahu hasil spermanya abnormal, apakah dia berhenti dengan perempuan itu…tidak, menurut suami saya dan saya konfirmasi dari chatt WA mereka; perempuan itu membujuk dan menyemangati seperti supoorter bola bahwa mereka masih bisa berusaha dan perempuan itu ingin memberi suami saya anak barang satu saja ;  seperti kucing garong disodori ikan asin, tentu saja suami saya mengamini dan mereka melanjutkan “ baby project “ mereka, sampai suami saya pindah ke Bandung, perempuan itu yang mungkin perlu uang bedak karena tidak bekerja ( ini juga merujuk dari chatt WA dimana perempuan itu rajin minta jajan pada suami saya, dari  uang untuk membeli sabun vagina ‘ supaya bisa seperti perawan lagi’ seharga Rp.150 rb sampai HP Xiaomi tipe apalah..), atau mungkin sudah merasa ketagihan , perempuan itu terus menghubungi suami saya lewat WA dari jam 5 pagi sampai jam 10 malam….bertanya kapan suami saya ke Jatim, ke jember menengok neneknya ( perempuan itu tetangga desa dengan nenek suami saya), membanjiri dengan kalimat “ I love you”, ucapan kangen, percakapan vulgar, dan mengirim foto-foto  bayi, foto pahanya, foto pose sexy yang barangkali pikir perempuan itu bisa menggugah suami saya untuk segera berangkat ke Jawa Timur..

Setelah di Bandung , suami saya setiap 3-4 bulan ke Jawa Timur , berdalih menengok orang tua dan neneknya di Jember, sekali pulang biasanya 3 minggu dan saya kerap bertengkar dengan suami saya soal ini, setiap suami saya pulang ke Jawa Timur, hati saya selalu gelisah dan tidak tenang, dan saya pernah menyampaikannya kepada suami saya dan dia tidak berkomentar apa-apa.

Akhirnya  3 tahun mereka berpacaran , entah berapa puluh atau ratus kali mereka tidur bersama di belakang saya,  tetapi perempuan itu tidak kunjung hamil..tidak pernah hamil….dan orang tua perempuan itu akhirnya tahu kalau anak perempuannya sudah ditiduri pacarnya yaitu suami saya karena kakak perempuan itu melihat ada kit tes kehamilan di tas adiknya , saya tidak tahu apakah si perempuan itu dimarahi atau tidak , yang jelas  hingga suatu saat ibu si perempuan itu sakit keras dan dirawat di RS entah di Puskesmas di Jember dan saat antara hidup dan mati, seperti adegan sinetron; ibu perempuan itu meminta suami saya menikahi anaknya , dan seperti adegan sinetron juga, suami saya menyanggupi karena dihadapkan pada permintaan orang di ambang sakratul maut, setelah mendengar janji suami saya…kemudian ibu perempuan itu pun…tidak jadi meninggal …dan sehat seperti sedia kala.

Pertanyaannya mengapa orang tua perempuan itu setuju anaknya menikah dengan suami saya, sementara perempuan itu, kakaknya, orang tuanya, mengetahui kalau suami saya sudah punya istri di Bandung, jawabannya terdengar sangat mulia, karena ayah si perempuan itu mendukung suami saya untuk punya anak, atau mungkin karena harta warisan suami saya di Jember , entahlah..yang jelas  saat orang tua suami saya melamar dan menyampaikan kalau suami saya punya istri di Bandung, orang tua perempuan itu menjawab : “ Iya, tidak apa-apa”…

Kemudian kenapa juga orang tua suami saya alias mertua saya menyetujui suami saya menikah lagi, sebetulnya mereka menyuruh suami saya memilih saya atau perempuan itu, dan tentu saja mereka tertarik mendegar kata “ mendapat cucu” daripada mempertimbangkan perasaan dan keberadaan saya ,mantu yang mereka tidak kenal dan hanya tahu ceritanya saja.

Kemudian suami  saya dan perempuan itu menikah, dengan resepsi, ada perlaminan, ada foto-foto pengatin dengan pose-pose klise…dan kemudian katanya mereka berobat alternatif ke sebuah pesantren di Lumajang supaya bisa punya anak; dan saya setelah tahu suami selingkuh membuka-buka laci kerja suami saya dan menemukan botol-botol kosong dengan etiket  ‘Al Khotamaini’yang merupakan obat alternatif supaya menjadi subur? entahlah..…saya heran saja kok suami saya yang pendidikan S1 Brawijaya yang berarti bukan orang bodoh mau mengkonsusmsi obat –obat tidak jelas seperti itu , entah apa isi dan kandungan botol-botil kecil itu , yang jelas saya mencari info tentang pesantren itu malah menemukan informasi pengajian sesat, Waliahu a’lam bishawab...

Tahun 2014 mereka mulai selingkuh, September 2016 mereka menikah, 2 Januari 2017 suami saya menengok ‘pengantin’nya pertama kali ke Jember , 7 Januari 2017 saat suami saya di Jember itu saya tahu suami saya selingkuh, kemudian ramailah dunia persilatan….Februari 2017 suami saya pindah ke Bali tanpa perempuan itu, yang lagi-lagi setelah menikah pun tidak kunjung hamil, dan tidak lama kenudian suami saya mengirim pesan di WA : aku ingin pulang ke Bandung….