Dulu, ada teman yang bilang ,
masa kritis perkawinan itu adalah tahun ke -5, waktu itu saya hanya tersenyum
atau tertawa ya, yang jelas saya tidak berkomentar tetapi perkataan itu
menempel di otak saya seperti materai (
perangko sudah out of date soalnya )
Menikah tahun 2010 dengan cara
yang super sederhana, tanpa undangan ,tanpa foto prewedding dengan pose-pose
dramatis ataupun lucu-lucuan, tanpa baju pengantin yang memukau karena
kebetulan punya kebaya putih, tanpa perias pengantin karena dandan sendiri,
tanpa kue pengantin karena hanya ada tumpeng, tanpa ada bunga dan perlaminan
karena hanya di mesjid, pokoknya banyak
tanpanya…saya ingat kami berangkat ke mesjid memakai motor, sempat kehujanan dan
berteduh depan rumah orang, dan karena kakak laki-laki saya sebagai wali terlambat
tiba dari Bekasi , saat itu wajah saya
sudah berminyak dan make up saya sudah tidak maksimal..
Ya, karena kami menikah tanpa
restu orang tua suami dan ibu saya ( Bapak saya sudah Alm) sehingga yang hadir
hanya teman dekat , kakak sulung saya dan kakak laki-laki saya sebagai Wali ..Selanjutnya
saat ibu saya tahu tentu saja beliau murka , tetapi lama-lama beliau bisa
menerima suami saya , demikian juga keluarga besar saya, tetapi tidak dengan
orang tua dan keluarga besar suami,
mereka anti, ogah,tak sudi, nehi punya mantu seperti saya…padahal penampakan
saat itu saya tidak jelek & punya pekerjaan
bagus, tetapi keluarga suami keberatan karena status saya yang janda tanpa
anak, lebih tua, sunda pula !…weleh-weleh ,betul-betul bukan mantu idaman…padahal keluarga saya juga sempat tidak merestui
karena suami lebih muda dan belum mapan, tetapi keluarga saya nampaknya lebih
realistis , lha wong udah nikah, mungkin demikian pemikiran kakak-kakak saya
tentang adik bungsunya ini…Tetapi saat itu kami bahagia karena setelah 3 tahun
dekat dengan LDR-an, akhirnya kami bisa menjadi suami istri, dan masih LDR-an
sampai beberapa waktu berikutnya…..ohya, suami saya dan orangtuanya sama-sama di Jawa Timur tetapi berbeda kota.
Mengapa kami bisa berkenalan dan bersama, itu juga misteri hidup, dan dengan perbedaan usia yang cukup jauh; kami pun sudah berusaha saling menghindar, saya pernah memutuskan suami saya saat kami sebutlah pacaran, demikian juga suami saya juga sempat memutuskan saya dan saya pernah dekat dengan laki-laki lain yang lebih 'normal' untuk saya, dia lebih tua 2 tahun, punya pekerjaan bagus di Jakarta dan sama-sama pernah mengalami kegagalan dalam pernikahan, tetapi entahlah... akhirnya kami tetap bersama dan memutuskan menikah, meski dengan cara yang tidak sewajarnya...
Mengapa kami bisa berkenalan dan bersama, itu juga misteri hidup, dan dengan perbedaan usia yang cukup jauh; kami pun sudah berusaha saling menghindar, saya pernah memutuskan suami saya saat kami sebutlah pacaran, demikian juga suami saya juga sempat memutuskan saya dan saya pernah dekat dengan laki-laki lain yang lebih 'normal' untuk saya, dia lebih tua 2 tahun, punya pekerjaan bagus di Jakarta dan sama-sama pernah mengalami kegagalan dalam pernikahan, tetapi entahlah... akhirnya kami tetap bersama dan memutuskan menikah, meski dengan cara yang tidak sewajarnya...
Tahun 2013 kami sudah bisa
memiliki rumah mungil di daerah sejuk di Bandung, saya pikir kami cukup bahagia
ya…kami masih menyalurkan hobby kami naik gunung, touring, jalan-jalan, dan
kegiatan outdoor lainnya, ekonomi kami semakin membaik , meski ada kesedihan
karena kami masih tinggal berjauhan dan hanya bisa berkumpul sebulan 2x, tetapi
komunikasi lewat telpon, WA, BBM,masih lancar. Meski kalau Hari Raya saya harus
merelakan suami saya pulang ke orang tuanya karena ibunya pasti menangis Bombay di telpon minta anaknya
pulang, malah pernah suami saya baru sehari tiba di Bandung sudah ditelpon ibunya
sambil menangis , dan suami sayapun bergegas pulang sementara mencari tiket Bandung - Jawa Timur apalagi mendadak seperti itu cukup sulit …tinggalah saya Hari Raya sendirian di rumah, karena kalau
saya ke tempat keluarga saya kuatir mereka sedih melihat saya Hari Raya hanya luntang-lantung
sendirian.
Apakah saya tidak ingin menemui
keluarga suami di Jawa Timur ? tentu
saja…tetapi suami selalu melarang karena keluarganya terutama ibunya belum
welcome dan masih meminta suami meninggalkan saya,…lama –lama saya bosan
tidak bertanya-tanya lagi.
Tahun 2014 suami mengajak program
baby yang langsung saya sambut positif karena saya sudah lama juga ingin punya
baby dan dananya pun ada. Kami memeriksakan diri ke salah satu dokter
infertilitas terkenal di RS Limiyati, suami saya diperiksa spermanya , saya USG
intra vaginal dan HSG dan ternyata hasil pemeriksaan sperma suami
saya kurang baik, saya
sebagai orang kesehatan cukup terkejut saat ikut memeriksa sample sperma suami saya , suami saya diperiksa 2x dan hasilnya
sama, saya sendiri meski sel telurnya ukuran normal dan rahim normal tetapi ada polip di ovarium sehingga harus dikuret
dan setelah dikuret saya kontrol ke dokter lagi dan kondisi saya dinyatakan oke
dan dokter bilang ayo kita mulai program Inseminasi, saya mulai minum obat dan
disuruh menurunkan berat badan 3 kg ( yg susah sekali menurunkan 3 kg aja!) dan
suami diberikan pengantar untuk pemeriksaan washing sperma . Ketika hasil washing sperna sudah kami
terima saya tertegun membaca hasilnya , kualitas sperma suami saya tidak memenuhi untuk inseminasi…,
tetapi saya tidak banyak komentar dan mengajak kami kontrol/konsul ke dokter kembali.
Selama itu saya berusaha tidak
menyinggung perasaan suami saya soal spermanya tetapi dia justru punya
pemikiran saya tidak hamil karena polip saya dan usia saya yang sudah di tidak
muda lagi ; sampai akhirnya kami kontrol ke dokter dan setelah melihat hasil
washing sperma suami saya , dokter menyampaikan bahwa kami tidak bisa melanjutkan
inseminasi karena dengan kualitas sperma seperti itu yang memungkinkan hanyalah
program bayi tabung dengan pembuahan injeksi , namun itu pun faktor kegagalannya
tinggi karena usia saya, akhirnya program baby terhenti…dan perlahan suami saya
menyadari theres something wrong with his sperm…., terpukul ? tentu saja..
Saya pernah bertanya, dengan
hati-hati, kita mau gimana…mau adopt baby, atau kita berdua saja sampai maut
memisahkan kita…suami saya hanya diam dan saya tidak berbicara lebih jauh
lagi. Saya sendiri berusaha tidak menunjukkan keinginan mempunyai baby di depan suami saya, perempuan mana yang tidak ingin hamil dan mempunyai anak...? Saat itu saya juga sudah mulai bosan LDR-an…kok ya buang-buang waktu dan
uang ; kami nikah kok hidup
sendiri-sendiri, tidak terhitung berapa kali saya menghimbau, menangis , meratap supaya
kita bisa tinggal dan hidup bersama….
Akhirnya tahun 2015 awal suami
saya pindah ke Bandung..senang ? tentu…bahagia? nanti dulu, justru setelah
tinggal bersama terus menerus ,di luar dugaan saya, kita seringkali bertengkar…entah
ya…, saya benar-benar bingung saat itu , padahal saya menservis suami saya
pol-polan karena saya menghargai pengorbanan dia meninggalkan pekerjaannya…saya
juga berusaha mengalah karena takutnya suami saya harus menyesuaikan diri untuk benar-benar tinggal di Bandung, tetapi entah kenapa kok rasanya saya salah terus dan
dia banyak melamun, cepat sekali marah, malah pernah berkata kasar karena pagi-pagi
saya mengingatkan dia sarapan meski setelahnya dia minta maaf…
Akhir 2015 kami pindah ke rumah
baru yang mempunyai pekarangan lebih luas , dan sikap suami saya tidak berubah,
angin-anginan , kadang happy dan ceria ; itu benar-benar jackpot buat saya...tetapi seringkali berubah secepat kilat menjadi diam & pemurung, saya pernah menanyakan uang belanja yang tak
kunjung di transfer , dengan nada biasa, tanpa tekanan, tetapi
dia bisa demikian marahnya, sampai saya kaget karena tidak menyangka dia akan marah, lalu suami saya saat itu juga transfer dengan bank online dengan marah, dan
kemudian mendiamkan saya seharian…yah, mungkin saat itu suami saya sedang menyiapkan dana untuk resepsi pernikahannya...Atau ketika saya mengingatkan dia untuk makan,
mengeluarkan kendaraan, menjemput, dll..begitu juga kalau kita sedang melakukan
perjalanan, saat mendaki gunung saja dia
sempat-sempatnya mendiamkan saya, dia cepat marah sampai saya heran dan mulai
berfikir..kalau begini terus apakah kami , saya, akan bisa bertahan?
Sejak Suami saya pindah
berwiraswasta di Bandung, dia seringkali mudik ke Jawa Timur, alasannya kangen
nenek dan memang kami ada mempekerjakan penjahit disana sehingga alasan untuk mengontrol pekerjaan. Kalu mudik durasinya bisa sampai 3-4 minggu…sampai
saya seringkali marah, menangis dari menangis diam-diam sampai menagis meratap
karena dia mudik lama sekali sementara saya tinggal sendirian di rumah dan hanya
ditemani kucing –kucing peliharaan …teman kerja saya pernah sambil bercanda
bilang klu mudik lama gitu mah sempet buat kawin lagi…saat itu saya hanya
tertawa….
Akhir tahun 2016, seperti biasa
kami merencanakan perjalanan liburan , saat itu rencana perjalanan kami cukup
panjang karena kami akan melakukan touring motor ke Flores, suami saya
berangkat terlebih dahulu dan seperti biasa mampir dulu di Jawa Timur untuk
kemudian menjemput saya di Ngurah Rai..saat itu semestinya kami mengisi
perjalan dengan bahagia, riang, penuh canda, penuh tawa, penuh cinta, karena
perjalanam tsb sudah kami impikan cukup lama, durasinya panjang dan biayanya
juga tidak sedikit, tetapi tidak berjalan mulus , saat liburan itu saya berulang tahun dan suami hanya
mengucapkan selamat ulang tahun, padahal saya berpikir suami akan memberi saya kado ulang tahun dan
saya menerimanya dengan senyum manja….Suami beberapa kali bersikap kasar dan yang terakhir di Labuan Bajo , saat malam tahun baru, saat itu
saya cukup tersinggung dan diam, eh…suami saya malah ikut diam, akhirnya malam itu kami tidur di bed berbeda ( hotelnya pas dapat yang twin bed) dan saling
membisu, sampai keesokan paginya karena suatu kendala, saya harus mengejar masuk
kerja sehingga pulang ke Bandung dari Labuan Bajo dengan pesawat sementara suami
saya membawa motor sendirian dan seperti sebelumnya dia akan mampir di
keluarganya di Jawa Timur untuk beberapa lama, baru pulang ke Bandung …sejak
menyusun itinerary saya sudah mewanti-wanti suami saya untuk tidak berlama-lama di jawa
Timur karena kami akan memperbaiki beberapa bagian rumah..Pagi itu tanggal 1
Januari 2017 suami saya mengantar dalam diam, saat masuk bandara , kami cipika –cipiki
dalam diam…saat berjalan masuk , saat itu saya sudah merasa hampa , lelah, dan putus
asa ….
Saat tiba di rumah saya baru sadar kalau Blackberry suami
terbawa di ransel saya, dan saya taruh di lacinya. Seminggu kemudian , hari Sabtu malam tanggal 7 Januari 2017 saya baru pulang dari menengok Ibu saya, setelah mandi saya bersiap-siap untuk tidur, saat itu pukul 23.00, tiba-tba saja saya teringat BB suami saya
yang selama seminggu teronggok di laci , saat itu sekonyong-konyong saya bangun, membawa BB tsb ke tempat tidur
dan mulai membuka-buka inbox FB & chatt Whatsup-nya...dan saya terbelalak,
tangan dan badan saya bergetar hebat, karena saya menemukan chatt intim dengan perempuan
berikut foto-fotonya , dan di akun instagram perempuan itu ada foto-foto
pernikahan tertanggal September 2016, dan disana suami saya bersanding dengan
perempuan itu di perlaminan…suami saya mengenakan jas dan dasi kupu-kupu
seperti waiter, dan perempuan itu memakai gaun putih mekrok dan memegang buket bunga entah asli entah plastik….
Kemudian saya menelpon perempuan itu yang malah dengan nada
ketus mengatakan kalau dia sudah lama menjadi ‘istri’ suami saya, dan bilang,"Sudahlah
kamu kan lebih tua seharusnya lebih dewasa"..,gubrak…! belakangan saya tahu
kalau suami saya sudah menidurinya sejak tahun 2014 sebelum mereka menikah
September 2016
Saya menelpon Ibunya, ibunya bilang tidak kenal saya dan langsung menutup telpon…
Saya menelpon Ibunya, ibunya bilang tidak kenal saya dan langsung menutup telpon…
Malam itu mata saya tidak bisa mmemejamkann mata sama sekali, saya tidak menangis, tapi pikiran saya berkecamuk,…keesokan
harinya saya masuk kerja seperti zombie….
Bersambung ke : SERIBU ALASAN LAKI-LAKI UNTUK SELINGKUH